Tidak perlu
jauh-jauh untuk melakukan perjalanan wisata sejarah. Bagi ku perjalanan wisata
sejarah di Kalimantan Utara khususnya Bulungan sangat melelahkan karena
banyaknya jalanan rusak, dari jalanan rusak sedang, berlobang hingga rusak
parah sampai ban mobil amblas. Hal ini membuat aku tidak sanggup melakukan
perjalanan apalagi naik mobil. Butuh perjuangan banget ya! Untuk yang tidak mabuk
darat it’s okay tetapi untuk yang
tidak tahan siap-siap ya!
Perjalanan wisata sejarah di Tanjung
Palas, Bulungan, Kalimantan Utara lumanyan cukup indah jika di datangi apalagi
situs tersebut terawat dengan baik. Sebelumnya mari aku perkenalkan di Bulungan
itu ada apa sih? Bulungan sebuah kota bersejarah dimana pernah berdirinya
Kesultanan Bulungan di kota Tanjung Palas. Kota Tanjung Palas ini pernah
berdirinya sebuah istana Kesultanan Bulungan tetapi dikarena ada tragedi yang
dinamakan sebagai tragedi Bultiken. Bultiken merupakan singkatan dari Bulungan,
Tidung dan Kenyah. Ketiga suku ini menjadi suku pertama yang menghuni kawasan
Bulungan. Adanya tragedi Bultiken membuat Istana Kesultanan Bulungan yang megah
nan indah ini terbakar habis.
Awal mula tragedi ini pada masa
presiden Soekarno, dikabarkan bahwa Kesultanan Bulungan dianggap berhianat dan
memihak kepada Malaysia. Maka dari itu pada tahun 1964, Istana Kesultanan
Bulungan dihancurkan dan dibakar oleh Tentara Republik Indonesia yang dipimpin
oleh Letnan B. Simatupang atas perintah Pangdam IX Mulawarman Brigadir Jendral
Suhario. Sebelum dilakukannya pembakaran, mereka melakukan penjarahan terhadap
harta benda milik Kesultanan Bulungan. Beberapa dari anggota kerajaan juga di
eksekusi dan ada beberapa yang hilang tanpa status. Memori seperti ini membuat
para saksi mata masih merasakan kepedihan dan sakit hati melihat pada waktu itu
keluarga dan kerabat diculik juga di eksekusi.
Kesultanan Bulungan berdiri pada tahun
1731 dengan sultan pertama dengan nama Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) dan
sultan yang terakhir atau ke-13 yang bernama Sultan Maulana Muhammad
Djalaluddin (1931-1958). Kesultanan Bulungan pernah menguasai wilayah Kabupaten
Bulungan, Tarakan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, Tawau sekarang Sabah. Meskipun
Istana Kesultanan Bulungan terbakar habis rata dengan tanah tetapi ada beberapa
peninggalan atau harta benda milik Kesultanan Bulungan yang sempat di
selamatkan oleh anggota keluarga kesultanan. Maka dibangunkan sebuah museum
Kesultanan Bulungan guna difungsikan untuk menyimpan harta benda dan menjadikan
objek bersejarah di Kabupaten Bulungan.
Museum Kesultanan Bulungan ini letaknya
di Tanjung Palas berhadapan dengan sungai Kayan berdekatan dengan ibukota
Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Untuk jarak tempuh dari Tanjung Selor-Tanjung
Palas menggunakan perahu sekitar 10-15 menit dan jika naik kendaraan mobil atau
motor sekitar 25 menit paling lambat. Museum Kesultanan Bulungan buka setiap
hari mulai pukul 08.00 pagi hingga 15.00 sore dan tidak dikenakan biaya masuk
tetapi masuk museum harus tetap sopan dan harus menghormati sesuatu yang ada di
dalam Museum. Perjalanan ku ke Museum tidak jauh hanya sekitar 200-250 meter
karena Museum ini sangat dekat dengan rumah aku.
Benda-benda milik Kesultanan Bulungan ini memiliki nilai sejarah sebagai bukti bahwa pernah Berjaya Kesultanan Bulungan dan bukti peradaban. Ketika sampai di Museum kita akan melihat ada sebuah meriam yang kabarnya meriam ini salah satu pemberian dari Belanda. Ketika masuk ke dalam museum, Ada beberapa benda koleksi yang di replika dikarena benda aslinya sudah rusak. Benda replika ini seperti singgasana sultan, tempat pernikahan, tempat tidur sultan, dan pakaian kebeseran Sultan Bulungan. Untuk benda asli seperti keris, senjata, piring, gelas, sendok, kursi, meja dan banyak yang masih benda asli. Tetapi sangat disayangkan bahwa tidak adanya penjelasan tentang benda-benda tersebut hanya saja menyebutkan nama benda itu sendiri. Jika benda-benda tersebut ada penjelasan maka pengunjung juga tidak bingung ini guna nya seperti apa. Museum Kesultanan Bulungan ini juga kurang terawat maka tidak jarang tidak ramai pengunjungnya ditambah pada masa pandemi saat ini membuat museum ini membatasi para pengunjung guna menghindari kerumunan dan memutus rantai virus.
Oleh: Anlisa Lailan Kamila
@anlisalailan_


Komentar
Posting Komentar