Tahukah kalian jika peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck itu
adalah peristiwa nyata? Peristiwa tersebut terjadi di perairan Jawa bagian
utara tepatnya ada di perairan Brondong, Lamongan pada bulan Oktober tahun
1936. Nelayan Brondong yang sedang berlayar saat itu berbondong-bondong
menyelamatkan para korban dari kapal milik Belanda tersebut. Atas jasa para
nelayan, pemerintah Belanda membangun monumen Kapal Van Der Wijck.
Pada bulan November tahun 2020, saya melakukan kunjungan ke monumen tersebut yang terletak di Kecamatan Brondong tepatnya ada di area TPI Brondong. Akses menuju tempat tersebut cukup mudah karena letaknya yang berada di jalan raya penghubung Tuban dan Gresik. Jarak lokasi dengan rumah saya di Kecamatan Tikung sekitar 50 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu 1 jam 19 menit. Rutenya dapat ditemukan di aplikasi google maps.
Rute Perjalanan dari Rumah Penulis ke Lokasi Monumen
Sayangnya, monumennya tidak mudah ditemukan karena tidak ada
keterangan tempat. Hal ini terjadi ketika saya mengunjungi monumen ini, saya
berulang kali mencari di area TPI yang luas namun tidak segera menemukan.
Akhirnya, saya menemukannya tepat di dekat jalan raya namun di area yang
terkesan nyelempit. Tidak ada aturan
kunjungan di monumen ini sehingga dapat dikunjungi oleh siapapun dan kapanpun serta
tanpa membayar.
Ketika tiba di sana, saya tertegun karena menurut saya monumen
ini seperti tidak terawat. Areanya dipenuhi dengan rerumputan liar dan dedaunan
kering yang berserakan karena tidak ada perawat di monumen ini. Padahal,
monumen ini mengandung nilai historis sebagai bukti adanya peristiwa
tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan juga sebagai bukti bahwa nelayan Brondong
memiliki rasa sosial yang tinggi karena menolong para korban. Menurut hasil
wawancara dari salah satu warga sekitar monumen, masyarakat di sana mengetahui
akan sejarah dibalik berdirinya monumen tersebut tetapi kurang sadar akan pelestariannya.
Namun, dari semua kekurangannya, monumen ini berdiri dengan gagah meskipun
tidak tinggi. Di bagian bawahnya terdapat prasasti yang bertuliskan bahwa
monumen ini ditujukan untuk penolong korban dari tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck.
Rumput Liar dan Dedaunan yang Memenuhi Halaman Monumen
Mengunjungi situs bersejarah di kota sendiri apalagi yang
memiliki nilai historis yang tinggi memiliki kesan yang tidak dapat dilupakan,
meskipun tidak semuanya baik. Perjalanan ini memberikan pelajaran kepada saya
bahwa tidak hanya tempat-tempat besar dan terkenal yang dapat dikunjungi, tapi
juga tempat “kecil” seperti monumen ini. Tidak semua tempat besar memberi kesan
yang besar pula. Terkadang, tempat-tempat seperti ini justru memberikan
ingatan, kenangan, dan kesan yang tak terlupakan.
~Rifda
Salsabila



Komentar
Posting Komentar