Arca Ratu Suhita
Sumber gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id
Indonesia
pada abad ke 21 ini terkadang cenderung menganggap bahwa wanita lebih lemah
dari pada laki-laki. Sistem masyarakat yang cenderung patriarki lebih menambah
peranan wanita yang hanya sebatas ibu rumah tangga yang bertugas mengurus rumah
dan anak. Namun, jika kita melihat jauh mundur ke abad 14-15 Masehi diketahui
sistem masyarakat di Indonesia jauh dari
itu. Pada abad ke 14-15 Masehi atau pada era Majapahit telah diketahui bahwa
wanita mempunyai peranan yang sejajar dengan laki-laki, bahkan diketahui
terdapat sekiranya dua wanita yang menjabat sebagai Raja kerajaan besar
tersebut. Mereka adalah Tribhuwanatunggadewi dan Suhita.
Pada
saat Tribhuwanatunggadewi menjabat sebagai Ratu, sang Ratu berhasil menumpas
pemberontakan yang terjadi di Sadeng dan Keta dengan bantuan Gadjah mada dan
mengankat Gadjah mada menjadi patih. Sementara itu pada saat Suhita menjadi
Ratu, saang Ratu telah mengangkat Arya Teja sebagai pempin masyarakat Cina di
Tuban.
Baik
Tribhuwanatunggadewi maupun Suhita, mereka menjabat menjadi Ratu dengan waktu
lebih dari 10 tahun. Tribhuwanatunggadewi 22 tahun dan Suhita 18 tahun. Melihat
adanya wanita yang menjadi Raja bahkan ada yang pula yang berhasil menumpas
sebuah pemberontakan adalah hal yang tidak biasa dan bahkan laki-laki pun belum
tentu dapat melakukan hal seperti itu. Dari era Majapahit pada abad ke 14-15
Masehi ini pula diketahui bahwa emansipasi wanita di Nusantara telah ada bahkan
jauh sebelum Kartini.
Oleh : Gilang Harits M.
Komentar
Posting Komentar