Suara
segerombolan orang dengan kuda mereka memenuhi sebuah desa dengan mayoritas
penduduknya adalah Tionghoa pada tahun 1825. Tak lama setelah itu, suara
tembakan bertubi-tubi menembus rumah-rumah diikuti dengan suara jeritan dan
tangisan. Suasana malam itu sangat mencekam dan menegangkan. Namun dalam diri
pasukan tersebut merasakan gelora yang begitu bersemangat bak pemburu yang
mendapatkan binatang buruhan.
“Allahu
Akbar!!” Pria yang paling depan menyerukan ucapan berbahasa Arab.
“Allahu
Akbar! Allahu Akbar!” Orang-orang yang ada di belakangnya mengikuti dengan
semangat.
Seorang
wanita terduduk lemas di samping tubuh laki-laki yang baru saja meninggalkan
dunia terkena senjata. Seorang pria berusaha melawan pasukan itu, namun ia
hanya menjadi korban selanjutnya. Dua pemuda mencoba bertahan dengan
bersembunyi di balik jemuran-jemuran panjang dan lebar yang masih sedikit
basah. Beberapa warga memilih berkumpul untuk bersama-sama menghadapi serangan
itu. Mereka juga memilih untuk berdo’a kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun,
berbeda dengan warga di sebuah rumah di ujung desa.
Hwi Lan,
gadis Tionghoa itu, mematung di tempat persembunyiannya, di bawah ranjang
tempat tidur tepatnya. Ia melihat peristiwa yang mmebuatnya takut, sedih,
sekaligus marah. Hwi Lan menyaksikan kedua orang tuanya terkena senjata dan
ambruk seketika. Gadis 16 tahun itu mencoba menahan suara agar orang-orang
berkuda itu tidak mendengarnya. Ia masih menahan isak tangis.
Masih segar
dalam ingatannya sesaat sebelum peristiwa itu. Ia dan kedua orang tuanya sedang
bercengkerama membicarakan tentang rencana pernikahannya. Ya, Hiw Lan akan
menikah dengan seorang Belanda bernama Robert Van Dedrick, pria yang telah
mengejarnya bertahun-tahun bahkan sejak ia masih menjalani masa transisi dari
anak-anak ke remaja. Robert berusia 5 tahun di atasnya. Robert berdarah asli
Belanda. Ayah dan ibunya adalah seorang Belanda yang kaya. Entah apa yang
membuat Robert ingin menikahi Hwi Lan yang tidak kaya.
"Kriet"
Pintu rumah
terbuka. Hwi Lan mendekap mulutnya. Ia tahu jika ada orang yang memasuki
rumahnya.
"Dap..
dap.. dap.."
Terdengar
suara langkah kaki yang sepertinya milik satu orang. Agak lega bagi Hwi Lan
yang takut jika ada banyak orang menyerbunya saat itu juga. Namun, ia tidak
boleh lega terlebih dahulu. Kini yang harus dilakukan oleh Hwi Lan hanya diam
dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Ia masih
ingat sekali ketika ayahnya terkena senjata, ibunya menyuruh ia bersembunyi.
"Bersembunyilah,
Hwi Lan. bersembunyilah sampai mereka tidak bisa menemukanmu".
Tepat setelah
perintah itu, ibunya juga terkena senjata dan ambruk seketika. Hwi Lan yang
melihat langsung kejadian itu menangis seketika dan menggoncangkan tubuh kedua
orang tuanya.
Namun,
akhirnya ia sadar. Bersembunyi adalah permintaan terakhir ibunya. Segera dia
menuju bawah ranjang kamar tidurnya.
"Ketok e
wes gaono uwong maneh."
Ucap orang
itu dalam bahasa Jawa yang ternyata ia bersama satu orang lagi di belakangnya.
"Ojok
didelok njobone thok. njeruh e mesisan." Ujar orang di belakangnya itu.
"Ayo
melbu wes!"
Kedua orang
itu memasuki rumah dan mendapati dua orang yang telah tak bernyawa. Ya, mereka
adalah orang tua Hwi Lan.
"Innalillahi
wa inna ilaihi roojiuun" ucap orang di depan tadi mendoakan.
"He
gausah didoano ngono. Iki wong kafir"
"Oh iyo.
Yowes ayo muter muter omah iki"
Kedua orang
itu berkeliling untuk melihat keadaan. Hwi Lan dengan jelas melihat dua orang
itu. Keduanya memakai baju panjang putih dengan hiasan kepala di atasnya yang
mana ayahnya pernah menyebut hiasan itu. Namanya udeng.
Kedua orang
itu memasuki kamar Hwi Lan. Entah karena keahlian atau hanya firasat, tiba-tiba
mereka menundukkan kepala ke bawah ranjang. Hwi Lan terkejut sekali.
"Sinten
niki nggeh?" ucap salah satu dari dua orang itu. Salah satu dari mereka
sudah mengacungkan senjata.
"Maafkan
aku ibu.. aku tidak bisa menepati janji" ujar Hwi Lan dalam hati sembari memejamkan
mata untuk pasrah.
Tiba-tiba...
"Raak
mijn meisje niet aan!!!"
Suara berat,
tegas, dan marah bersumber dari depan kamar. Hwi Lan membuka mata dan menatap
kejadian di depannya. Robert. Pria itu menyelamatkannya.
Robert
menarik tangan Hwi Lan dan mengajaknya berlari ke belakang rumah. Kemudian Robert menaikan Hwi Lan di kudanya. Dengan sekuat tenaga, Robert
memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Hwi Lan memeluk Robert dengan kencang
dan menyandarkan kepala di bahunya dengan perasaan berkecamuk.
Pasukan di
belakang Robert mencoba mengejar sembari menembakkan senjata. Namun, Robert
bukanlah seorang penunggang kuda amatir. Dapat dibilang ia adalah seorang yang
paling handal menunggang kuda di kota itu.
"Kalian
kafir!!!! Allah akan membalas kalian. Allahu Akbar"
"Allahu
akbar"
Jerit pasukan
itu dengan kencang dan penuh semangat.
Ketika
pasukan di belakangnya sudah tidak terlihat, Robert megurangi kecepatan
kudanya.
Setelah
melewati perjalanan yang tidak begitu jauh, mereka sampai di pusat kota. Robert
memasuki kawasan perumahan yang mewah, sepertinya itu merupakan perumahan
Eropa. Robert menghentikan kudanya di depan rumah mewah. Mereka berdua turun
dari kuda.
“Kau tidak
apa-apa?” Robert memeluk Hwi Lan dengan menaruh rasa khawatir. Hwi Lan menangis
di pelukan Robert.
“Aku tidak
apa-apa. Siapakah mereka?” Jawab Hwi Lan dengan lemas dan suara yang serak.
“Mereka
adalah pasukan dari orang-orang Islam yang sedang berusaha menyingkirkan klanmu
dan klanku. Pemimpin mereka adalah seorang pangeran bernama Diponegoro.”
Setelah
dirasa lebih tenang, Hwi Lan melepaskan pelukan Robert.
“Terima kasih
sudah menyelamatkanku.” Ucap Hwi Lan berterima kasih.
“Di sini akan
lebih aman. Tinggallah disini saja.”
“Tapi… bagaimana
dengan Ayah dan Ibuku?”
“Mereka sudah
meninggal Hwi Lan, sebaiknya kita tinggalkan saja agar diurus oleh warga dan
pasukan putih itu.”
“Tapi aku
tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Robert.” Air mata Hwi Lan kembali jatuh.
“Baiklah,
besok akan kuurus, tapi masuklah dulu. Darto akan mengurus keperluanmu.”
“Kau
berjanji?”
“Ya.”
Robert dan
Hwi Lan memasuki rumah itu.
***
Hwi Lan
membuka matanya. Cahaya dari jendela memenuhi ruangan.
“Goedemiddag,
schat.”
Robert
tersenyum manis dengan dandanan yang sudah rapi. Hwi Lan tersenyum kecil.
Ingatannya masih berada di kejadian semalam.
“Apakah sudah
siang, Robert?”
“Ya.. Kau
tidur sangat nyenyak. Aku tidak berani membangunkanmu.”
“Maaf.. Aku
merepotkanmu.”
“Hey, wat
bedoel je, schat? Aku sama sekali tidak merasa repot. Justru aku sangat senang
dengan keberadaanmu. Sebentar lagi ini akan menjadi rumahmu juga.”
Hwi Lan
tersenyum simpul. Memang, ia akan menikah dengan Robert sebentar lagi. Tapi,
apakah pernikahan itu akan tetap berlangsung tanpa kedua orang tuanya? Ia tidak
tahu pasti. Yang jelas, hari ini Hwi Lan akan mengunjungi desa lagi.
“Aku akan ke
desa setelah ini.” Ujar Hwi Lan.
“Bersamaku
saja. Tetapi aku harus mengurus kudaku terlebih dahulu.”
“Kapan kau
akan selesai?”
“Mungkin sore
ini.”
“Baiklah aku
akan menunggu.”
“Darto sudah
membuatkan makanan untukmu. Ayo kita turun ke bawah.”
Hwi Lan
beranjak dari ranjangnya dan segera turun mengikuti Robert.
Makanan
disajikan dan Hwi Lan menyantapnya dengan tidak nafsu. Robert sudah pergi untuk
mengurus kudanya di pekarangan. Hwi Lan gelisah memikirkan orang tuanya. Ia
harus ke sana segera. Namun, ia juga harus menghargai Robert yang telah
menyelamatkannya sehingga ia akan menunggu Robert untuk bersama-sama ke desa.
***
Langit hampir
gelap, namun tanda-tanda kehadiran Robert tak kunjung ada. Hwi Lan di kamarnya
melihat ke jendela terus menerus sampai langit gelap sempurna.
Saat sudah
malam, pintu kamar Hwi Lan terbuka menampilkan Robert yang membawa gaun putih
panjang.
“Robert, dari
mana saja kau? Ayo kita segera ke desa.”
“Maaf, sayang.
Aku tadi ke toko pakaian untuk mengambil gaunmu untuk pernikahan kita nanti.”
Jawab Robert dengan santainya.
“Apa?? Tapi
kau sudah berjanji akan ke desa menemaniku. Kenapa kau malah lebih mementingkan
pernikahan yang tak tahu akan jadi atau tidak?”
Ekspresi muka
Robert berubah menjadi lebih serius.
“Apa maksudmu
jadi atau tidak. Tentu saja harus jadi. Kau sudah bersedia menikah denganku Ini
sudah aku ambilkan gaun untukmu di toko yang sudah kita pesan.”
“Bagaimana
aku akan menikah jika aku tidak tahu bagaimana keadaan orang tuaku sekarang?”
Hwi Lan mulai sedikit terisak.
“Mereka sudah
mati, Hwi Lan. Hidup terus berjalan. Hiduplah denganku. Aku akan
membahagiakanmu. Biarkanlah yang sudah meninggalkan dunia pergi.”
“Kau
keterlaluan! Aku akan pergi sendiri sekarang.” Hwi Lan mencoba keluar melewati
pintu, namun Robert lebih cepat pergerakannya dengan menutup pintu dan
menghalangi Hwi Lan keluar dengan badannya yang dua kali lebih besar dari Hwi
Lan.
“Minggir!”
Hwi Lan membentak Robert.
“NO! Kau
tidak boleh kesana. Kau harus di sini terus bersamaku. Aku mencintaimu.”
“Omong
kosong. Jika kau mencintaiku, maka biarkanlah aku pergi menemui kedua orang tua
ku.”
“Mereka sudah
mati, sayang. Pokoknya, kau tidak boleh keluar dari kamar ini. Darto akan
mengantarkan makananmu ke sini.”
Robert keluar
dari kamar namun dengan gesit menutupnya kembali dan menguncinya dari luar. Hwi
Lan memaksa membuka pintu dengan menggedor-gedornya.
“Robert,
buka!!! Kau keterlaluan. ROBERTT!!!”
Tanpa
mengindahkan Hwi Lan, Robert berjalan meninggalkan ruagan itu. Hwi Lan masih
berusaha untuk keluar. Namun, tenaganya sudah terkuras dan ia terduduk lemas di
lantai mewah itu. Hwi Lan menekuk kedua kakinya
dan menenggelamkan wajah diantaranya. Air matanya tak terbendung lagi.
Hwi Lan menangis sejadi-jadinya.
***
Sesuai ucapan
Robert, Darto mengantarkan makanan ke kamar Hwi Lan besok pagi dan siangnya. Ketika Darto mengantarkan makan malam, Hwi Lan menggunakan kesempatan untuk keluar dari rumah itu.
“Darto,
dimana Robert?”
“Meneer Robert
sedang di pekarangan karena kuda-kudanya tadi siang terjadi masalah.”
“Darto, aku
ingin ke kamar mandi di luar. Kamar mandi di kamar ini airnya mati.”
“Nggih.”
Darto membuka
pintu kamar Hwi Lan. Memang, Darto dikenal sebagai orang yang ceroboh dan tidak
gesit. Meskipun masih muda, namun berulang kali Darto terkena masalah akibat
kecerobohannya. Meskipun begitu, Robert tetap mempekerjakan Darto karena
perintah Ayahnya yang memiliki hutang budi pada keluarga Darto.
Setelah pintu
terbuka, Hwi Lan segera ke kamar mandi diikuti dengan Darto yang menunggu di
luar.
“Darto,
bisakah kau mengambilkan bajuku di kamar?” Ujar Hwi Lan dari dalam kamar mandi.
“Nggih.”
Ketika sudah
dipastikan Darto sudah tidak berada di depan pintu kamar mandi, Hwi Lan segera
menjalankan rencananya. Ia membuka pintu kamar mandi dan segera berlari
menuruni tangga besar rumah itu.
Darto yang
menyadari Hwi Lan sedang melarikan diri, segera ia berteriak.
“Neng Ayu..
Jangan melarikan diri.”
Darto
berkali-kali memanggil Hwi Lan namun Hwi Lan tetap berlari.
Hwi Lan sudah
ada di halaman depan rumah. Namun, tiba-tiba..
DORR!!
Hwi Lan
ambruk dengan luka di kakinya. Darto mematung di belakang Hwi Lan.
“WAAR GA JE
HEEN??”
Robert
berteriak dengan amarah yang tak terbendung lagi. Ia menghampiri Hwi Lan yang
tidak bisa berdiri dan duduk di sampingnya.
“Sudah
kubilang jangan keluar!!!.”
“NI SHI
MOGUI”
“Apa kau
tidak mengerti? Aku sudah menyelamatkanmu dari kematian. Tidakkah kau
mempedulikanku? Lupakan orang tuamu dan hiduplah denganku. Jangan memikirkan
orang lain. Ada aku di sini. Bahagialah denganku!!” Robert berteriak dengan amarah
yang sudah tidak terbendung lagi.
Namun, Hwi
Lan justru meludahi wajah Robert.
“Aku tidak
akan berbahagia dengan setan sepertimu.”
“Apa kau
sangat ingin menemui orang tuamu?” Robert bertanya ke Hwi Lan.
“Tentu saja!”
“Kalau
begitu….”
Robert
berdiri dan kemudian….
DORRR!!
DOORRR!!!
Darto sangat
terkejut dengan kejadian di depannya.
Benda kecil
menembus perut Hwi Lan. Darah segar keluar dari mulut Hwi Lan. Namun ia masih
dapat mengucap kata-kata.
“Ro…bert….”
Ucap Hwi Lan yang sudah sangat lemas.
“Jika aku
tidak bisa memilikimu. Maka tidak ada orang lain yang bisa memilikimu juga
termasuk orang tuamu. Namun, karena kau sungguh gigih ingin bertemu dengan
mereka, maka akan aku bantu.”
Robert
menggetarkan giginya dengan mata yang merah penuh amarah. Ia mengangkat
tombaknya lagi dan…
DORRR!!!
Suara
tembakan terdengar sekali lagi. Kali ini hanya sekali namun dapat membunuh
target. Benda kecil menembus dada Hwi Lan yang membuat tubuh Hwi Lan tidak
bergerak lagi dan menjadi kaku.
Robert hanya bisa memandangi tubuh Hwi Lan yang penuh dengan darah. Tidak ada lagi amarah di dalam dirinya dan berganti dengan rasa bersalah. Robert mulai terisak. Namun, semuanya sudah terlambat. Waktu tidak akan terulang lagi dan Hwi Lan tidak akan kembali lagi. Sepertinya Robert akan hidup dengan perasaan sesal dan bersalah seumur hidupnya.
-END-
Cerita ini terinspirasi dari Memoar Ko
Ho Sing yang ditulis oleh Didi Kwartanada dalam pengantarnya di buku “Orang
Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina
1755-1825” oleh Peter Carey. Nama dan kisah Robert, Hwi Lan, dan Darmo adalah
nama fiktif yang dibuat oleh penulis.
-Rifda Salsabila-

Komentar
Posting Komentar