Langsung ke konten utama

Bezitterig

 

Sumber Gambar: https://www.idntimes.com/health/medical/amp/rifa-2/mengenal-komponen-darah-dan-fungsi-pentingnya-bagi-tubuh-c1c2

Suara segerombolan orang dengan kuda mereka memenuhi sebuah desa dengan mayoritas penduduknya adalah Tionghoa pada tahun 1825. Tak lama setelah itu, suara tembakan bertubi-tubi menembus rumah-rumah diikuti dengan suara jeritan dan tangisan. Suasana malam itu sangat mencekam dan menegangkan. Namun dalam diri pasukan tersebut merasakan gelora yang begitu bersemangat bak pemburu yang mendapatkan binatang buruhan.

“Allahu Akbar!!” Pria yang paling depan menyerukan ucapan berbahasa Arab.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Orang-orang yang ada di belakangnya mengikuti dengan semangat.

Seorang wanita terduduk lemas di samping tubuh laki-laki yang baru saja meninggalkan dunia terkena senjata. Seorang pria berusaha melawan pasukan itu, namun ia hanya menjadi korban selanjutnya. Dua pemuda mencoba bertahan dengan bersembunyi di balik jemuran-jemuran panjang dan lebar yang masih sedikit basah. Beberapa warga memilih berkumpul untuk bersama-sama menghadapi serangan itu. Mereka juga memilih untuk berdo’a kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun, berbeda dengan warga di sebuah rumah di ujung desa.

Hwi Lan, gadis Tionghoa itu, mematung di tempat persembunyiannya, di bawah ranjang tempat tidur tepatnya. Ia melihat peristiwa yang mmebuatnya takut, sedih, sekaligus marah. Hwi Lan menyaksikan kedua orang tuanya terkena senjata dan ambruk seketika. Gadis 16 tahun itu mencoba menahan suara agar orang-orang berkuda itu tidak mendengarnya. Ia masih menahan isak tangis.

Masih segar dalam ingatannya sesaat sebelum peristiwa itu. Ia dan kedua orang tuanya sedang bercengkerama membicarakan tentang rencana pernikahannya. Ya, Hiw Lan akan menikah dengan seorang Belanda bernama Robert Van Dedrick, pria yang telah mengejarnya bertahun-tahun bahkan sejak ia masih menjalani masa transisi dari anak-anak ke remaja. Robert berusia 5 tahun di atasnya. Robert berdarah asli Belanda. Ayah dan ibunya adalah seorang Belanda yang kaya. Entah apa yang membuat Robert ingin menikahi Hwi Lan yang tidak kaya.

"Kriet"

Pintu rumah terbuka. Hwi Lan mendekap mulutnya. Ia tahu jika ada orang yang memasuki rumahnya.

"Dap.. dap.. dap.."

Terdengar suara langkah kaki yang sepertinya milik satu orang. Agak lega bagi Hwi Lan yang takut jika ada banyak orang menyerbunya saat itu juga. Namun, ia tidak boleh lega terlebih dahulu. Kini yang harus dilakukan oleh Hwi Lan hanya diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Ia masih ingat sekali ketika ayahnya terkena senjata, ibunya menyuruh ia bersembunyi.

"Bersembunyilah, Hwi Lan. bersembunyilah sampai mereka tidak bisa menemukanmu".

Tepat setelah perintah itu, ibunya juga terkena senjata dan ambruk seketika. Hwi Lan yang melihat langsung kejadian itu menangis seketika dan menggoncangkan tubuh kedua orang tuanya.

Namun, akhirnya ia sadar. Bersembunyi adalah permintaan terakhir ibunya. Segera dia menuju bawah ranjang kamar tidurnya.

"Ketok e wes gaono uwong maneh."

Ucap orang itu dalam bahasa Jawa yang ternyata ia bersama satu orang lagi di belakangnya.

"Ojok didelok njobone thok. njeruh e mesisan." Ujar orang di belakangnya itu.

"Ayo melbu wes!"

Kedua orang itu memasuki rumah dan mendapati dua orang yang telah tak bernyawa. Ya, mereka adalah orang tua Hwi Lan.

"Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun" ucap orang di depan tadi mendoakan.

"He gausah didoano ngono. Iki wong kafir"

"Oh iyo. Yowes ayo muter muter omah iki"

Kedua orang itu berkeliling untuk melihat keadaan. Hwi Lan dengan jelas melihat dua orang itu. Keduanya memakai baju panjang putih dengan hiasan kepala di atasnya yang mana ayahnya pernah menyebut hiasan itu. Namanya udeng.

Kedua orang itu memasuki kamar Hwi Lan. Entah karena keahlian atau hanya firasat, tiba-tiba mereka menundukkan kepala ke bawah ranjang. Hwi Lan terkejut sekali.

"Sinten niki nggeh?" ucap salah satu dari dua orang itu. Salah satu dari mereka sudah mengacungkan senjata.

"Maafkan aku ibu.. aku tidak bisa menepati janji" ujar Hwi Lan dalam hati sembari memejamkan mata untuk pasrah.

Tiba-tiba...

"Raak mijn meisje niet aan!!!"

Suara berat, tegas, dan marah bersumber dari depan kamar. Hwi Lan membuka mata dan menatap kejadian di depannya. Robert. Pria itu menyelamatkannya.

Robert menarik tangan Hwi Lan dan mengajaknya berlari ke belakang rumah. Kemudian Robert menaikan Hwi Lan di kudanya. Dengan sekuat tenaga, Robert memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Hwi Lan memeluk Robert dengan kencang dan menyandarkan kepala di bahunya dengan perasaan berkecamuk.

Pasukan di belakang Robert mencoba mengejar sembari menembakkan senjata. Namun, Robert bukanlah seorang penunggang kuda amatir. Dapat dibilang ia adalah seorang yang paling handal menunggang kuda di kota itu.

"Kalian kafir!!!! Allah akan membalas kalian. Allahu Akbar"

"Allahu akbar"

Jerit pasukan itu dengan kencang dan penuh semangat.

Ketika pasukan di belakangnya sudah tidak terlihat, Robert megurangi kecepatan kudanya.

Setelah melewati perjalanan yang tidak begitu jauh, mereka sampai di pusat kota. Robert memasuki kawasan perumahan yang mewah, sepertinya itu merupakan perumahan Eropa. Robert menghentikan kudanya di depan rumah mewah. Mereka berdua turun dari kuda.

“Kau tidak apa-apa?” Robert memeluk Hwi Lan dengan menaruh rasa khawatir. Hwi Lan menangis di pelukan Robert.

“Aku tidak apa-apa. Siapakah mereka?” Jawab Hwi Lan dengan lemas dan suara yang serak.

“Mereka adalah pasukan dari orang-orang Islam yang sedang berusaha menyingkirkan klanmu dan klanku. Pemimpin mereka adalah seorang pangeran bernama Diponegoro.”

Setelah dirasa lebih tenang, Hwi Lan melepaskan pelukan Robert.

“Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Ucap Hwi Lan berterima kasih.

“Di sini akan lebih aman. Tinggallah disini saja.”

“Tapi… bagaimana dengan Ayah dan Ibuku?”

“Mereka sudah meninggal Hwi Lan, sebaiknya kita tinggalkan saja agar diurus oleh warga dan pasukan putih itu.”

“Tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Robert.” Air mata Hwi Lan kembali jatuh.

“Baiklah, besok akan kuurus, tapi masuklah dulu. Darto akan mengurus keperluanmu.”

“Kau berjanji?”

“Ya.”

Robert dan Hwi Lan memasuki rumah itu.

***

Hwi Lan membuka matanya. Cahaya dari jendela memenuhi ruangan.

“Goedemiddag, schat.”

Robert tersenyum manis dengan dandanan yang sudah rapi. Hwi Lan tersenyum kecil. Ingatannya masih berada di kejadian semalam.

“Apakah sudah siang, Robert?”

“Ya.. Kau tidur sangat nyenyak. Aku tidak berani membangunkanmu.”

“Maaf.. Aku merepotkanmu.”

“Hey, wat bedoel je, schat? Aku sama sekali tidak merasa repot. Justru aku sangat senang dengan keberadaanmu. Sebentar lagi ini akan menjadi rumahmu juga.”

Hwi Lan tersenyum simpul. Memang, ia akan menikah dengan Robert sebentar lagi. Tapi, apakah pernikahan itu akan tetap berlangsung tanpa kedua orang tuanya? Ia tidak tahu pasti. Yang jelas, hari ini Hwi Lan akan mengunjungi desa lagi.

“Aku akan ke desa setelah ini.” Ujar Hwi Lan.

“Bersamaku saja. Tetapi aku harus mengurus kudaku terlebih dahulu.”

“Kapan kau akan selesai?”

“Mungkin sore ini.”

“Baiklah aku akan menunggu.”

“Darto sudah membuatkan makanan untukmu. Ayo kita turun ke bawah.”

Hwi Lan beranjak dari ranjangnya dan segera turun mengikuti Robert.

Makanan disajikan dan Hwi Lan menyantapnya dengan tidak nafsu. Robert sudah pergi untuk mengurus kudanya di pekarangan. Hwi Lan gelisah memikirkan orang tuanya. Ia harus ke sana segera. Namun, ia juga harus menghargai Robert yang telah menyelamatkannya sehingga ia akan menunggu Robert untuk bersama-sama ke desa.

***

Langit hampir gelap, namun tanda-tanda kehadiran Robert tak kunjung ada. Hwi Lan di kamarnya melihat ke jendela terus menerus sampai langit gelap sempurna.

Saat sudah malam, pintu kamar Hwi Lan terbuka menampilkan Robert yang membawa gaun putih panjang.

“Robert, dari mana saja kau? Ayo kita segera ke desa.”

“Maaf, sayang. Aku tadi ke toko pakaian untuk mengambil gaunmu untuk pernikahan kita nanti.” Jawab Robert dengan santainya.

“Apa?? Tapi kau sudah berjanji akan ke desa menemaniku. Kenapa kau malah lebih mementingkan pernikahan yang tak tahu akan jadi atau tidak?”

Ekspresi muka Robert berubah menjadi lebih serius.

“Apa maksudmu jadi atau tidak. Tentu saja harus jadi. Kau sudah bersedia menikah denganku Ini sudah aku ambilkan gaun untukmu di toko yang sudah kita pesan.”

“Bagaimana aku akan menikah jika aku tidak tahu bagaimana keadaan orang tuaku sekarang?” Hwi Lan mulai sedikit terisak.

“Mereka sudah mati, Hwi Lan. Hidup terus berjalan. Hiduplah denganku. Aku akan membahagiakanmu. Biarkanlah yang sudah meninggalkan dunia pergi.”

“Kau keterlaluan! Aku akan pergi sendiri sekarang.” Hwi Lan mencoba keluar melewati pintu, namun Robert lebih cepat pergerakannya dengan menutup pintu dan menghalangi Hwi Lan keluar dengan badannya yang dua kali lebih besar dari Hwi Lan.

“Minggir!” Hwi Lan membentak Robert.

“NO! Kau tidak boleh kesana. Kau harus di sini terus bersamaku. Aku mencintaimu.”

“Omong kosong. Jika kau mencintaiku, maka biarkanlah aku pergi menemui kedua orang tua ku.”

“Mereka sudah mati, sayang. Pokoknya, kau tidak boleh keluar dari kamar ini. Darto akan mengantarkan makananmu ke sini.”

Robert keluar dari kamar namun dengan gesit menutupnya kembali dan menguncinya dari luar. Hwi Lan memaksa membuka pintu dengan menggedor-gedornya.

“Robert, buka!!! Kau keterlaluan. ROBERTT!!!”

Tanpa mengindahkan Hwi Lan, Robert berjalan meninggalkan ruagan itu. Hwi Lan masih berusaha untuk keluar. Namun, tenaganya sudah terkuras dan ia terduduk lemas di lantai mewah itu. Hwi Lan menekuk kedua kakinya  dan menenggelamkan wajah diantaranya. Air matanya tak terbendung lagi. Hwi Lan menangis sejadi-jadinya.

***

Sesuai ucapan Robert, Darto mengantarkan makanan ke kamar Hwi Lan besok pagi dan siangnya. Ketika Darto mengantarkan makan malam, Hwi Lan menggunakan kesempatan untuk keluar dari rumah itu.

“Darto, dimana Robert?”

“Meneer Robert sedang di pekarangan karena kuda-kudanya tadi siang terjadi masalah.”

“Darto, aku ingin ke kamar mandi di luar. Kamar mandi di kamar ini airnya mati.”

“Nggih.”

Darto membuka pintu kamar Hwi Lan. Memang, Darto dikenal sebagai orang yang ceroboh dan tidak gesit. Meskipun masih muda, namun berulang kali Darto terkena masalah akibat kecerobohannya. Meskipun begitu, Robert tetap mempekerjakan Darto karena perintah Ayahnya yang memiliki hutang budi pada keluarga Darto.

Setelah pintu terbuka, Hwi Lan segera ke kamar mandi diikuti dengan Darto yang menunggu di luar.

“Darto, bisakah kau mengambilkan bajuku di kamar?” Ujar Hwi Lan dari dalam kamar mandi.

“Nggih.”

Ketika sudah dipastikan Darto sudah tidak berada di depan pintu kamar mandi, Hwi Lan segera menjalankan rencananya. Ia membuka pintu kamar mandi dan segera berlari menuruni tangga besar rumah itu.

Darto yang menyadari Hwi Lan sedang melarikan diri, segera ia berteriak.

“Neng Ayu.. Jangan melarikan diri.”

Darto berkali-kali memanggil Hwi Lan namun Hwi Lan tetap berlari.

Hwi Lan sudah ada di halaman depan rumah. Namun, tiba-tiba..

DORR!!

Hwi Lan ambruk dengan luka di kakinya. Darto mematung di belakang Hwi Lan.

“WAAR GA JE HEEN??”

Robert berteriak dengan amarah yang tak terbendung lagi. Ia menghampiri Hwi Lan yang tidak bisa berdiri dan duduk di sampingnya.

“Sudah kubilang jangan keluar!!!.”

“NI SHI MOGUI”

“Apa kau tidak mengerti? Aku sudah menyelamatkanmu dari kematian. Tidakkah kau mempedulikanku? Lupakan orang tuamu dan hiduplah denganku. Jangan memikirkan orang lain. Ada aku di sini. Bahagialah denganku!!” Robert berteriak dengan amarah yang sudah tidak terbendung lagi.

Namun, Hwi Lan justru meludahi wajah Robert.

“Aku tidak akan berbahagia dengan setan sepertimu.”

“Apa kau sangat ingin menemui orang tuamu?” Robert bertanya ke Hwi Lan.

“Tentu saja!”

“Kalau begitu….”

Robert berdiri dan kemudian….

DORRR!! DOORRR!!!

Darto sangat terkejut dengan kejadian di depannya.

Benda kecil menembus perut Hwi Lan. Darah segar keluar dari mulut Hwi Lan. Namun ia masih dapat mengucap kata-kata.

“Ro…bert….” Ucap Hwi Lan yang sudah sangat lemas.

“Jika aku tidak bisa memilikimu. Maka tidak ada orang lain yang bisa memilikimu juga termasuk orang tuamu. Namun, karena kau sungguh gigih ingin bertemu dengan mereka, maka akan aku bantu.”

Robert menggetarkan giginya dengan mata yang merah penuh amarah. Ia mengangkat tombaknya lagi dan…

DORRR!!!

Suara tembakan terdengar sekali lagi. Kali ini hanya sekali namun dapat membunuh target. Benda kecil menembus dada Hwi Lan yang membuat tubuh Hwi Lan tidak bergerak lagi dan menjadi kaku.

Robert hanya bisa memandangi tubuh Hwi Lan yang penuh dengan darah. Tidak ada lagi amarah di dalam dirinya dan berganti dengan rasa bersalah. Robert mulai terisak. Namun, semuanya sudah terlambat. Waktu tidak akan terulang lagi dan Hwi Lan tidak akan kembali lagi. Sepertinya Robert akan hidup dengan perasaan sesal dan bersalah seumur hidupnya.

-END-

Cerita ini terinspirasi dari Memoar Ko Ho Sing yang ditulis oleh Didi Kwartanada dalam pengantarnya di buku “Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-1825” oleh Peter Carey. Nama dan kisah Robert, Hwi Lan, dan Darmo adalah nama fiktif yang dibuat oleh penulis.

-Rifda Salsabila-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SDN 2 TALIWANG

Kenalan Dulu Yukk!

  Halow everybody, selamat datang di blog HistoryScript. kenapa yoo dinamakan HistoryScript? Kita bahas asal mula penamaan dulu yaa... HistoryScript itu asalnya dari dua kata yaitu History dan Script. History itu artinya sejarah, nah kalo script itu artinya naskah. Nah dari kedua kata itu digabungin artinya. Iyapp betul, histrory script itu artinya naskah sejarah. Dari namanya aja udah pada tau kann di blog ini akan bahas apa ajaa ???? Kita disini bahas tentang tulisan dan peristiwa-peristiwa sejarah loo... pastinya akan ditulis dengan gaya bahasa yang mileniall karena para penulisnya pun anak-anak millenial zaman now. Kita akan sering update membahas topik yang seru seru bangeettt. Siapa yang nggak sabaarrrr ???? Tungguinn yak🤪 Btw ngomongin tentang penulisnya, kita belum kenalan nih siapa ajaa sih penulisnyaa.... kita perkenalan dluu yaa, Ada pepatah nih Tak Kenal Maka Tak Sayang, Tak Sayang Maka Tak Cinta nahh lohhh. Kita dari jurusan yang sering dibilang gabisa move on nih.. y...

Around The World In One Night

  Sumber Gambar: https://www.google.com/amp/s/bobo.grid.id/amp/08677592/mengenal-gaya-candi          Pagi itu merupakan pagi yang cerah untuk memulai petualangan bagi si kembar, Arya dan Kusuma. Pagi yang cerah ini mereka rencakan untuk mengeksplore wilayah candi Borobudur. “apakah semua peralatan sudah kau persiapkan, kak ?” tanya Arya “sudah, mari berangkat”. Jawab Kusuma sambil memeriksa kembali barang-barang di tas.           Mereka pun berangkat. Arya yang seorang pecinta alam sangat menikmati perjalanan, sedangkan Kusuma yang seorang kutu buku penggemar sejarah sedang sibuk me research sejarah tentang candi Borobudur.           Borobudur saat itu sangat sepi dan hanya mereka lah satu-satunya pengunjung saat itu, hingga pada akhirnya tanpa mereka sadari mereka tertidur ditengah-tengah candi Borobudur tersebut.       ...