Dahulu hiduplah
sepasang suami-istri yang mendiami sebuah perkampungan kecil di tepi Sungai
Payang, cabang Sungai Pujungan. Suaminya bernama Kuanyi dan seorang pemimpin
suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan). Kuanyi dan istri nya ini tidak memiliki
keturunan atau tidak memiliki seorang anak, apalagi seorang pemimpin harus
memiliki keturunan untuk meneruskan tahta dari ayahnya ini. Kuanyi yang semakin
tua sangat risau karena merindukan sosok seorang anak untuk menemani hari-hari
membantu istrinya dalam pekerjaan rumah maupun menemaninya ke hutan untuk
berburu.
Pada saat Kuanyi ingin pergi ke hutan
untuk berburu, istrinya berteriak “Jangan pulang malam ya, hati-hati dijalan
semoga mendapatkan binatang buruan!” Kuanyi hanya tersenyum sambil melambaikan
tangan kepada istrinya tersebut. Ketika Kuanyi sampai di hutan dan berkeliling
mencari binatang buruan tetapi Kuanyi tidak mendapatkan binatang buruan. Kuanyi
merasa bersalah terhadap istrinya karena tidak mendapatkan binatang buruan,
lalu Kuanyi istirahat sejenak bersama anjing peliharaannya.
Disaat Kuanyi yang terlelap dalam
tidurnya, tiba-tiba Kuanyi terbangun karena mendengar suara anjingnya yang
menggongong dengan gaya seperti mendapatkan sesuatu yang berharga. Kuanyi pun
mengatakan kepada anjingnya “ada apa? Apa yang kamu temukan? Ayo kita cari
sama-sama!” saat Kuanyi melihat bahwa Kuanyi menemukan seruas bambu besar yang
kering dengan ukuran yang lumanyan besar. Dalam hati Kuanyi berbicara “apa aku
harus membawa bambu ini pulang? Hm semoga istri ku tidak marah atas apa yang
telah aku dapatkan” lalu bambu itu masuk ke dalam anjatnya (tas).
Sesampainya di rumah, Kuanyi
memberikan bambu itu kepada istrinya “maaf istri ku, aku hanya mendapatkan
sebuah bambu yang ukurannya lumanyan besar ini” dengan raut sedih Kuanyi memberikan
bambu tersebut. Istri Kuanyi pun mengatakan “tidak papa suamiku yang terpenting
kamu tidak diburu oleh hewan buas saja” lalu istri Kuanyi menyimpan bambu tersebut
di menyimpanan kayu di atas dapur. Kuanyi lalu pergi mandi, setelah mandi
Kuanyi pun beristirahat. Karena sangat lelah sekali Kuanyi sampai tertidur nyenyak
hingga fajar tiba.
Menjelang fajar tiba-tiba angin ribut diiringi
kilat, halilintar, badai serta hujan lebat yang membuat istri Kuanyi ketakutan
mendengar suara gemuruh hujan tersebut. Setelah hujan reda tiba-tiba Kuanyi dan
istrinya mendengar suara tangisan seorang bayi. Istrinya pun bertanya kepada
Kuanyi “Suamiku apakah kamu mendengar suara tanggisan seorang bayi? Sepertinya suara
tangisan bayi itu ada di dapur?” Kuanyi pun menjawab “ayo kita pergi ke dapur”.
Sesampainya di dapur betapa terkejutnya Kuanyi dan istrinya melihat bambu yang
dibawa oleh Kuanyi kemarin pecah dan keluar seorang bayi laki-laki. Kuanyi dan
istrinya pun sangat gembira sekali karena menurut mereka ini adalah pemberian
dari Tuhan. Istri Kuanyi pun memandikan bayi laki-laki hingga bersih dan
dinamai dengan nama Jau Wiru yang artinya bayi yang lahir setelah selesai angin
rebut. Kuanyi sangat gembira sekali karena ada seorang bayi yang hadir di
kehidupan mereka.
Beberapa hari kemudian, Kuanyi harus
pergi lagi kehutan untuk berburu mencari makan untuk dia sendiri dan istrinya. Peristiwa
ini terjadi lagi, Kuanyi tidak mendapatkan seekor binatang buruan dan Kuanyi
khawatir akan istri dan anaknya tersebut. Kuanyi pun duduk dibawah pohon yang
rindang sambil beristirahat. Tiba-tiba anjingnya menggongong sambil
berputar-putar di sekitar benda yang dia temukan. Kuanyi berkata “apalagi yang
kamu dapatkan?” Kuanyi pun bergegas melihatnya, ternyata sebuah telur yang
lumanyan sedang yang berada di atas tunggul kayu jemlay. Kuanyi segera pulang
memberikan telur tersebut kepada istrinya.
Istrinya terkejut “apa yang kamu bawa
itu suamiku?” Kuanyi pun menjawab “Sebuah telur yang aku temukan di atas
tunggul kayu jemlay, dimana harus aku simpan telur ini?” istrinya mengatakan “simpan
saja di ruang tengah suami ku”. Seperti biasanya Kuanyi mandi lalu bermain
sejenak dengan anak laki-lakinya tesebut. Ketika pagi menjelang, ada suara
tangisan seorang bayi lagi. Kuanyi mengira jika itu Jau Wiru tadi, ternyata
bukan. Dia mencari sumber suara tangisan tersebut ternyata sumbernya ada di
ruang tengah rumahnya. Ketika Kuanyi melihat ternyata telur yang dia bawa tadi
pecah dan dari dalamnya lahirlah seorang bayi perempuan. Kuanyi dan istrinya
pun terkejut melihat ada seorang bayi perempuan yang lahir dari telur ini.
betapa bahagia nya Kuanyi dan Istrinya karena Tuhan telah memberikan mereka
seorang anak laki-laki dan perempuan walaupun bayi ini bukan lahir dari Rahim istrinya.
Seorang bayi perempuan ini dinamai Putri Lemlai Suri yang artinya bayi lahir
dari telur yang terdapat diatas tunggu kayu jemlay. Bayi perempuan ini sangat cantik
dan bersinar sekali, istrinya tidak berhenti menatap bayi perempuan ini. Karena
adanya Jau Wiru dan Putri Lemlai Suri kehidupan mereka menjadi berwarna dan
penduduk di perkampungan mereka pun turut bahagia.
Ketika dewasa Jau Wiru dan Putri Lemlai Suri ini di nikahkan dan mereka menurunkan seorang yang menjadi bangsawan Bulungan. Nama Bulungan inilah diambil dari akar bambu tadi. Kata Bulungan berasal dari kata Belungon yang artinya bambu betulan atau benar-benar bambu. Karena adanya perubahan dialek bahasa melayu maka Belongon ini berubah menjadi Bulungan. Putri Lemlai Suri dijadikan sebuah Tugu di Tanjung Selor dan menjadi ciri khas Bulungan.
Oleh: Anlisa Lailan Kamila
@anlisalailan_

Komentar
Posting Komentar